Soal Adat Budaya Kattobokko, Ini Penjelasan Karaeng Marusu ke-24

VISITmaros.com – Adat istiadat budaya “Kattobokko” atau “Upacara Panen Raya” merupakan tradisi nenek moyang yang sudah ada sejak zaman dulu. Kattobokko sendiri digelar nenek moyang zaman dulu saat merayakan panen padi sebagai bentuk rasa syukur kepada ilahi atas hasil panen yang melimpah.

Berbicara adat “Kattobokko”, pemangku adat Kerajaan Marusus, Andi Abd Waris Karaeng Sioja menjelaskan “Kattobokko” berasal dari bahasa Makassar yang terdiri atas dua kata, yakni “Katto dan Bokko”. Dimana “Katto” berarti “Panen” sementara “Bokko” merupakan ikatan padi yang digunduk menjadi besar.

“Jadi secara harfiah “Kattobokko” merupakan panen pertama yang diikat sedemikian rupa dengan bentuk sedemikian rupa dan disakralkan oleh masyarakat”, sebut Andi Abd Waris Karaeng Sioja saat memberikan penjelasan.

Lebih lanjut Andi Abd Waris Kareng Sioja mengemukakan adat budaya “Kattobokko” memiliki nilai sakralitas tersendiri oleh nenek moyang zaman dulu dan diadakan tiap tahun saat panen padi tiba.

“Begitu pentingnya adat Kattobokko zaman dulu, bahkan di zaman perang sekalipun tetap digelar oleh nenek moyang kita”, jelasnya.

Perayaan adat budaya tahunan “Kattobokko” 2018, digelar selama dua hari 24-25 Maret 2018. Arak-arakan hasil panen padi dari sawah digelar pada hari Minggu 25 Maret. Dimana hasil panen diarak oleh puluhan warga menuju Istana Balla Lompoa Kassi Kebo, dan diterima langsung oleh Raja Adat Marusu ke-24 Andi Abd Waris Sioja.

Pemangku Adat Kerajaan Marusu, Andi Abd Waris Karaeng Sioja Saat Menerima Padi Hasil Panen Di Istana Balla Lompoa Kassi Kebo, Minggu (25/3/2018)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *