Upacara Adat Appalili

Upacara Adat Appalili
Prosesi Perjamuan Adat di Balla Lompoa. Foto : Fajrin Yusuf

Appalili adalah suatu rangkaian upacara adat sebelum memasuki musim tanam padi (bulan Nopember). Para petani sebelum turun ke sawah mengambil perkakas kerajaan Karaengga yang disimpan di dalam sebuah loteng rumah adat yang disebut Balla Lompoa ke tempat khusus yang sudah tersedia.

Peralatan tersebut diantaranya adalah Batang Pajjejko yang akan dipakai untuk membajak sawah. Batang Pajjejko yang kedatangannya memiliki sejarah tertentu juga merupakan lambang kebesaran bagi Kabupaten Maros.

Setelah semua perkakas lengkap, Gandrang Kalompoang dibunyikan sebagai pertanda acara adat sudah dimulai dan dimulai pula proses penjahitan kelambu Kalompoangnga setelah itu hasil jahitan yang terdiri dari kelambu, sprei, pembungkus dan alas disiapkan yang dilaksanakan setelah shalat Ashar.

Barang-Barang Upacara Adat Appalili
Barang-barang yang disiapkan untuk perjamuan dan upacara adat Appalili
di Balla Lompoa Kabupaten Maros. Foto : Fajrin Yusuf

Pada malam harinya diadakan perjamuan adat atau paempo adat yang dihadiri oleh Pemangku adat, Penasehat adat dan Gallarang Tujua (Kepala Dusun), tokoh tani dan pemerintah yang bertujuan untuk membicarakan masalah pertanian.

Sekitar Pukul 05.00 barang-barang kerajaan tersebut diarak menuju sawah milik Kerajaan Marusu yang bergelar Torannu. Prosesi bajak sawah menggunakan Batang Pajjejko yang dibantu oleh Tedong (sapi atau kerbau) sebanyak dua ekor, kemudian mengelilingi sawah sebanyak 3 kali dan selesailah upacara adat ini.

Rombongan inipun pulang kembali ke Balla Lompoa. Empat bulan kemudian diadakan persiapan acara adat Katto Bokko.

Seorang pria sederhana

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *